Miniproject yang Maxi

Dalam Pedoman Pelaksanaan Program Internsip Dokter Indonesia disebutkan bahwa para dokter internsip harus melakukan:

  1. Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP).
  2. Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP).
  3. Penelitian sederhana mengenai status kesehatan masyarakat.

Mini Project-200x200Dalam PKMP, selain untuk (1) Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, (2) Upaya Kesehatan Lingkungan, (3) Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana, (4) Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat dan (5) Upaya Surveilans, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Tidak Menular, maka para dokter internsip juga harus membuat miniproject dengan pendekatan lingkaran pemecahan masalah.

dr. Lidia Kurniawan – salah seorang Dokter Pendamping Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) Kabupaten Sorong yang juga adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong – mengatakan, “Setiap kelompok internsip yang di wahana Puskesmas diberi kebebasan untuk memilih apa yang menjadi topik di miniproject mereka. Tapi, setelah saya melihat sampai kelompok angkatan kedua selesai, saya menilai sepertinya kalau hanya begini-begini saja kok kurang bermanfaat dan tidak menunjukkan suatu hasil yang nyata dari kegiatan ini. Maka untuk kelompok ketiga ini, kami sepakat hanya ada satu topik untuk miniproject kelompok ini, yaitu Pengetahuan, Sikap dan Perilaku HIV/AIDS di Kabupaten Sorong. Kelompok internsip ini memutuskan untuk membuat survei ke sekolah-sekolah mulai tingkat SMP sampai SMA”.

e7b65479b4b0d73d0d93d77eebecace72c9ed142.jpeg
(dari kiri ke kanan) dr. Franciskus IJ Tambunan, dr. Dita P. Shafira, dr. Grace A. Gefilem, dr. Kristin M. Yumte, dr. Alvinsyah A. Pramono dan dr. Ary Lamuri

Yang dimaksud Lidia dengan kelompok ketiga ini adalah sekelompok dokter internsip yang mulai menjalani internsip di Kabupaten Sorong sejak Februari 2017. Mereka terdiri dari (1) dr. Alvinsyah Adhityo Pramono, (2) dr. Aly Lamuri, (3) dr. Dita Putri Shafira, (4) dr. Franciskus Indra Jaya Tambunan, (5) dr. Grace Agustin Gefilem, dan (6) dr. Kristin Mariana Yumte. Apa signifikansi miniproject bagi mereka dalam rangka pemahiran dan pemandirian mereka sebagai seorang dokter? Alvin berpendapat, “Seorang dokter dituntut untuk dapat memenuhi kriteria 7-Stars-Doctor yaitu (1) Care Provider, (2) Decision Maker, (3) Communicator, (4) Community Leader, (5) Manager, (6) Researcher dan (7) Memiliki iman dan takwa (Imtaq). Melalui miniproject-lah, kualitas seorang dokter ditempa. Dalam menjawab permasalahan kesehatan di lapangan diperlukan RESEARCHER untuk menganalisis masalah. Apabila sudah tahu permasalahannya diperlukan MANAGER, COMMUNITY LEADER dan DECISION MAKER untuk memberikan intervensi yang tepat dan terarah di lapangan. Seorang dokter dalam bermasyarakat juga harus menjadi COMMUNICATOR dan CARE PROVIDER yang baik serta role model dalam hal IMTAQ. Menurut kami, miniproject seperti inilah yang membantu kami dalam membangun kepercayaan diri kami bermasyarakat dan memandirikan kami dalam berinteraksi langsung dengan pasien”.

Apa yang menjadi latar belakang miniproject mereka? Alvin melanjutkan, “Miniproject ini dilakukan atas keprihatinan kami dan pembimbing lapangan kami atas kondisi pergaulan bebas, tingginya angka kejadian HIV dan IMS pada kalangan remaja di Kabupaten Sorong, Papua Barat. Hasil penelitian dokter internsip pada miniproject kelompok sebelumnya didapati 1 dari 10 remaja di Kabupaten Sorong sudah aktif secara seksual dan kamipun seringkali menemukan kasus abortus pada remaja yang datang ke Puskesmas kami saat kami bertugas. Kami menilai bahwa sekolah merupakan tempat di mana nilai-nilai luhur diajarkan dan dipertahankan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim HIV Universitas Padjadjaran menunjukkan terjadinya pergeseran paradigma mengenai fungsi guru Bimbingan Konseling (BK)”. Singkat cerita, mereka membuat sebuah buku berjudul “Buku Panduan Guru Konseling Siswa : Edukasi Perubahan Biologis & Psikososial Remaja”. Buku yang dicetak pertama kali di bulan Januari 2018 ini disunting oleh Zahrotur Rusyda Hinduan, Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung.

Picture1
Buku Panduan Guru karya para dokter internsip Kabupaten Sorong periode Februari 2017-2018

Buku ini selain berisi narasi berbagai topik tentang kesehatan reproduksi, juga disertai dengan ilustrasi berwarna tentang anatomi organ reproduksi manusia dan proses reproduksi yang terkait. Yang tidak kalah menariknya adalah juga ditampilkan Fakta dan Mitos terkait topik-topik yang dibahas.Picture2

Salah satu halaman Buku Panduan Guru yang disertai ilustrasi berwarna

“Penulisan buku ini diawali dengan penelitian lapangan kepada guru-guru di 20 SMP dan SMA di Kabupaten Sorong mengenai pengetahuan guru tentang kesehatan reproduksi, perkembangan psikososial remaja dan niat untuk memfasilitasi konseling bagi remaja. Di Kabupaten Sorong sendiri, dahulu ada muatan lokal wajib yaitu Life Skill Education yang mengajarkan siswa-siswi berbagai hal termasuk mengenai pergaulan dan HIV, namun implementasi Kurikulum Nasional 2013 menyebabkan muatan lokal ini tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah,” tambah Alvin. Selanjutnya, dengan menggandeng konsultan berpengalaman dari Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran mereka melakukan penyusunan kuesioner penelitian ini.

IMG-20180122-WA0104
Pengisian kuesioner di SMP Negeri 26 Kabupaten Sorong

“Menyusun buku merupakan hal yang mudah, namun menyusun buku yang sifatnya evidence based merupakan tantangan tersendiri bagi kami. Kami meyakini bahwa masalah kesehatan reproduksi dan pergaulan bebas ini bukan hanya masalah guru IPA, guru BK maupun guru agama. Namun, masalah ini merupakan masalah bersama, sehingga targetnya adalah niat seluruh guru mata pelajaran untuk mempertahankan moral value yang baik bagi siswa. Kami pun berkesempatan memberikan penyuluhan kepada siswa-siswi sembari guru-guru melakukan pengisian kuesioner. Penyuluhan ini disambut dengan antusias oleh murid-murid,” sambung Alvin.

IMG-20180122-WA0106
Penyuluhan kesehatan reproduksi pada siswa-siswi SMK di Kabupaten Sorong

Miniproject mereka mendapat sambutan yang baik dari pihak sekolah dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sorong. Sebagaimana dinyatakan oleh Bupati Sorong, Dr. Johny Kamuru, SH, M.Si., dalam Kata Sambutan buku ini, Buku Panduan Guru ini diharapkan menjadi salah satu sumber informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi serta upaya preventif HIV/AIDS pada remaja melalui guru di sekolah menengah, khususnya di Kabupaten Sorong. Sejalan dengan harapan Bupati Sorong, Alvin menyatakan, “Dari terbitnya buku ini, kami berharap dalam jangka pendek akan ada niat dan tindakan langsung para guru untuk menyediakan waktu, terlepas dari apapun mata pelajaran yang diajarkan untuk memfasilitasi konseling pada siswa. Sekolah pun juga dapat menggandeng orang tua dalam mengawasi perilaku dan pergaulan siswa. Jangka panjangnya, kami berharap Komisi Penanggulangan AIDS, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan setempat dapat membuat suatu produk hukum untuk mewajibkan kembali materi seperti ini dapat disosialisasikan di sekolah melalui jam ekstrakurikuler”.

dr emil_270
dr. Emil Bachtiar Moerad, Sp.P.

Apa yang dikerjakan oleh sekelompok dokter internsip Kabupaten Sorong ini juga telah diketahui oleh dr. Emil Bachtiar Moerad, SpP. Emil adalah Ketua Divisi Pendaftaran dan Akreditasi Peserta, Komite Internsip Dokter Indonesia (KIDI) Pusat, yang sudah beberapa kali menghantar dokter internsip ke Papua Barat (klik Internsip Dokter = Pemahiran dan Pemandirian Dokter Indonesia). Ketika dihubungi penulis, Emil mengatakan, “Ya ya … saya sudah dikirim juga dari dr. Alvin dan sudah saya share ke KIDI Pusat. KIDI Pusat sangat mengapresiasi. Nanti dr. Alvin akan kami jadwalkan diundang dalam acara Pertemuan KIDI Pusat untuk bisa memberikan cerita itu, bagaimana dia dan kawan-kawan mengerjakannya”.

Dr-Victor-Eka-Nugrahaputra-Kepala-Bidang-Pelayanan-Kesehatan-Dinas-Kesehatan-Papua-Barat
dr. Victor Eka Nugrahaputra, M.Kes.

dr. Victor Eka Nugrahaputra, M.Kes. sebagai salah satu Pengurus KIDI Provinsi Papua Barat memberikan apresiasi atas upaya yang telah dilakukan oleh para dokter internsip Kabupaten Sorong periode Februari 2017 ini. Kiranya hal ini dapat menjadi inspirasi bagi para dokter internsip yang sedang atau akan menjalani masa internsip pada wahana-wahana Puskesmas di Papua Barat maupun di berbagai wilayah Indonesia lainnya. “Miniproject yang maxi” imbuh Victor.

Catatan: softcopy (pdf) telah dapat diakses secara free atas persetujuan Tim Penyusun. Bagi yang berminat silakan mengisi kolom komentar dengan mencantumkan nama, instansi/lembaga dan nomor WhatsApp atau alamat email.

-DoVic 220118-

 

8 respons untuk ‘Miniproject yang Maxi

Add yours

  1. mohon ijin… meminta softcopy nya… sebagai salah satu bahan materi presentasi penyuluhan buat anak2 smp dan sma di lingkungan kerja pkm paaput
    nama : dr. Sylvester Lucky.

    instansi : pkm pasir putih, dinas kesehatan kabupaten manokwari

    no w.a : 081247713994

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: