Primum Non Nocere

1
Josie King’s Story: momentum kebangkitan patient safety

Suatu ketika di bulan Februari 2001, seorang anak berusia 18 bulan dibawa dengan terburu-buru oleh ibunya ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit (RS) Johns Hopkins di Amerika Serikat. Beberapa saat sebelumnya, anak itu mengalami luka di sekujur tubuhnya akibat air panas. Di IGD, anak tersebut mendapat perawatan sebagaimana mestinya dan dilanjutkan dengan perawatan di Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Tim medis RS tersebut memperkirakan bahwa anak tersebut bisa pulih dan dapat meninggalkan RS dalam 2 minggu berikutnya. Selepas perawatan di PICU, infus yang sebelumnya terpasang telah dilepas. Sejak itu, tampak setiap anak tersebut melihat segelas minuman, dia berteriak seolah memintanya. Si ibu menanyakan kepada perawat yang bertugas dan si perawat memastikan bahwa hal itu normal. Beberapa hari kemudian, sekembali si ibu ke RS – setelah sejenak pulang ke rumah setelah berhari-hari tanpa henti mendampingi anak malang itu – si ibu menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi pada anaknya. Si ibu memanggil tim medis yang kemudian memberikan Narcan – naloxone – sebuah antidote terhadap opium. Si ibu meminta agar diberikan ijin untuk memberikan segelas jus kepada anaknya yang kemudian diminumnya sampai habis. Sebuah perintah lisan diberikan oleh dokter agar tidak lagi diberikan narkotika. Anak itu tampak sedikit lebih baik. Delapan jam kemudian, seorang perawat masuk dengan membawa suntikan methadone, sejenis narkotika. Si ibu mengatakan kepada perawat tersebut bahwa tadi dokter telah memerintahkan untuk tidak diberikan narkotika lagi. Perawat itu mengatakan bahwa perintah telah diubah dan kemudian menyuntik anak tersebut. Segera setelah suntikan itu diberikan, anak tersebut mengalami henti jantung. Si ibu diminta untuk keluar ruangan. Anak itu dibawa ke PICU kembali dan berbagai monitor dipasang di tubuhnya. Dua hari kemudian, anak itu meninggal di dekapan ibunya, beberapa hari sebelum jadwal kepulangan yang telah direncanakan sebelumnya oleh tim medis RS tersebut. Anak itu mengalami infeksi nosokomial, dehidrasi berat dan pemberian narkotika yang tidak tepat. Sebuah medical error.

Nama anak itu adalah Josie King. Kematian Josie King di RS Johns Hopkins telah menjadi momentum moral yang penting bagi RS tersebut dan bagi dunia kedokteran. Keselamatan pasien atau patient safety adalah hal yang utama. Sebagaimana telah dinyatakan sejak awal oleh Bapak Kedokteran Dunia, Hippocrate (460-335 SM): Primum, Non Nocere atau First, Do No Harm yang artinya pertama-tama dan yang utama adalah jangan mencederai pasien. Sejak saat itu, berbagai upaya diinisiasi dan dikembangkan untuk mewujudkan patient safety, untuk mencegah 98.000 kematian (tahun 1999) yang tidak perlu di Amerika Serikat akibat medical error.

IMG-20180517-WA0190
dr. Victor sedang menjelaskan tentang Sasaran Keselamatan Pasien

Kisah ini diungkapkan oleh dr. Victor Eka Nugrahaputra, M.Kes yang bertindak selaku narasumber pada Workshop Keselamatan Pasien yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari di Hotel Billy Jaya Manokwari pada tanggal 17-19 Mei 2018. Workshop ini diikuti oleh 8 Puskesmas yang telah terakreditasi dan para pendamping akreditasi Puskesmas di Kabupaten Manokwari. Kepada 47 peserta Workshop ini, dr. Victor juga menjelaskan, “Ada 6 Sasaran Keselamatan Pasien yang perlu kita pahami, yaitu (1) mengidentifikasi pasien dengan benar, (2) meningkatkan komunikasi yang efektif dalam pelayanan, (3) meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai, (4) memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar dan pembedahan pada pasien yang benar, (5) mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan, dan (6) mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh”. Untuk memastikan peserta memahami cara mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan, dr. Victor meminta beberapa peserta untuk mendemonstrasikan 6 Langkah Cuci Tangan sesuai standar WHO (World Health Organization). “Agar mudah mengingat urutannya, gunakan jembatan keledai Te-Pung-Sela-Ci-Put-Put,” saran dr. Victor.

IMG-20180517-WA0191
Peserta Workshop Keselamatan Pasien sedang menyimak paparan yang disampaikan oleh para narasumber
IMG-20180518-WA0008
Foto bersama dengan jajaran Dinas Kesehatan dan para pendamping akreditasi FKTP Kabupaten Manokwari
IMG-20180519-WA0113
Foto bersama dengan sebagian peserta Workshop Keselamatan Pasien

Dalam kesempatan lainnya, dr. Adhe Ismawan, yang juga selaku narasumber, menjelaskan tentang risiko dan bagaimana melakukan manajemen risiko. “Kita perlu melakukan kajian risiko yang tahapannya adalah (1) identifikasi risiko, (2) analisis risiko, dan (3) evaluasi risiko,” kata dr. Adhe. Untuk melakukan analisis risiko, para narasumber memperkenalkan 3 tools yaitu, (1) Severity Assessment, (2) Root Cause Analysis (RCA), dan (3) Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Selain mempelajari konsep dan teorinya, para peserta juga menerapkannya melalui studi kasus dan berlatih mengisi formulir RCA dan formulir FMEA yang diadopsi dari Joint Commission. “Untuk mengetahui model-model kegagalan (failure modes) mana yang harus diperbaiki, maka gunakanlah cut-off Pareto, yaitu yang persentase kumulatifnya mendekati nilai 80%,” kata dr. Victor waktu mengulas tentang FMEA.

IMG-20180518-WA0030
Penugasan kelompok sebagai salah satu bentuk metode pembelajaran dalam Workshop Keselamatan Pasien

Para narasumber juga menekankan agar seluruh jajaran Puskesmas dapat mengenali, mencegah dan menangani seluruh insidens yang mungkin terjadi dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas, baik di bidang administrasi manajemen, bidang Upaya Kesehatan Masyarakat dan bidang Upaya Kesehatan Perorangan. “Kenali Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), Kejadian Tidak Cedera (KTC), Kejadian Nyaris Cedera (KNC) dan Kondisi Potensial Cedera (KPC). Bila terjadi insidens laporkan ke Komite Nasional Keselamatan Pasien (KNKP) sesuai amanat Peraturan Menteri Kesehatan nomor 11 tahun 2017,” sambung dr. Victor.

IMG-20180519-WA0119
Pemberian hadiah kepada para peserta terbaik oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, drg. Henri Sembiring. Dari kiri ke kanan; dr. Leny Sirappa (Puskesmas Wosi), Iksan (Puskesmas Sanggeng) dan Elvina Insyur (Puskesmas Amban).

Walaupun tidak selalu mudah bagi para peserta untuk memahami dan mempraktikkan ilmu-ilmu baru tersebut, namun pada akhirnya seluruh peserta telah dapat menunjukkan peningkatan pengetahuan pada akhir Workshop yang diketahui melalui post test.

IMG-20180521-WA0085
dr. Ivonne F. Kalele, M.Kes., Kepala Puskesmas Sanggeng

Salah satu peserta, dr. Ivonne F. Kalele, M.Kes., Kepala Puskesmas Sanggeng, mengatakan, “Workshop Keselamatan Pasien ini telah mengubah mindset kami, termasuk saya pribadi, bahwa upaya pencegahan risiko adalah hal yang sangat penting, bahkan untuk upaya yang paling kecil sekalipun. Utamakan keselamatan pasien, maka mutu pelayanan sudah di genggaman tangan.”  Puskesmas yang mengikutsertakan 8 orang sebagai peserta Workshop ini, 3 di antaranya adalah peserta dengan biaya mandiri, adalah Puskesmas yang telah terakreditasi Madya di tahun 2016. “Sangat penting untuk mengetahui mekanisme pengelolaan risiko dari mencegah sampai menangani. Belum semua tenaga kesehatan mengetahui hal ini,” sambung dokter lulusan 2004 dari Universitas Sam Ratulangi Manado ini. Untuk menindaklanjuti Workshop ini dr. Ivonne menjelaskan, “Kami akan mensosialisasikan kepada semua staf Puskesmas Sanggeng, mulai dari membangun mindset yang benar tentang patient safety sampai mengenalkan mekanisme pencatatan dan pelaporan. Kami akan membentuk Tim Keselamatan Pasien sesuai Permenkes nomor 11 tahun 2017. Kami juga akan menyiapkan instrumen manajemen risiko semudah mungkin sehingga mudah diakses staf Puskesmas jika suatu waktu ada insidens”.

“Pasien merupakan hal terpenting dalam proses pelayanan dan informasi sangat diperlukan untuk menghindari medical error,” ungkap dr. Leny Sirappa, salah satu peserta dari Puskesmas Wosi, yang juga terpilih sebagai peserta The Best. “Saya akan berusaha membangun semangat teman-teman di Puskesmas Wosi untuk dapat berproses bersama-sama membentuk tim kerja mewujudkan patient safety,” tekad dokter lulusan Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2001 ini.

IMG-20180520-WA0094
6 Puskesmas di Kabupaten Manokwari menerima Sertifikat Akreditasi Puskesmas (2017). 3 Puskesmas terakreditasi Madya dan 3 Puskesmas terakreditasi Dasar.

Mengakhiri Workshop Keselamatan Pasien di Kabupaten Manokwari, dr. Victor berpesan kepada Kepala Puskesmas Sanggeng, Amban, Wosi, Pasir Putih, Warmare, SP IV Prafi, Masni dan Mowbja, “Ciptakanlah budaya keselamatan pasien di Puskesmas masing-masing. Terapkanlah 7 langkah menuju keselamatan pasien. Wujudkanlah Just Culture yang tidak menyalahkan (non blaming)“.

-DoVic 240518-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: