Waspadailah Penyakit-Penyakit Maut Ini!

Seminggu terakhir Indonesia didera kesedihan, karena meninggalnya Ustadz Arifin Ilham akibat limfoma dan Ibu Ani Yudhoyono akibat leukemia. Kanker kelenjar getah bening telah merenggut nyawa Ustadz Arifin Ilham di usianya yang ke-49, sedangkan kanker darah telah mengakhiri kebersamaan Ibu Ani Yudhoyono dengan keluarganya di usianya yang ke-67 tahun. Keduanya meninggalkan kesan yang tak terlupakan bagi yang ditinggalkan. Keduanya meninggal akibat kanker. Apakah kanker menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia? Bukan! Yang tertinggi adalah stroke. Bagaimana dengan Papua Barat?

7_Agustus_06

Melalui Analisis Beban Penyakit atau Burden of Disease (BOD) yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes), Kementerian Kesehatan, dapat diketahui dua puluh penyebab kematian tertinggi di Papua Barat pada tahun 2017, yaitu:

  1. Stroke.
  2. Ischemic heart disease.
  3. Diabetes.
  4. Tuberculosis.
  5. Cirrhosis.
  6. Neonatal disorders.
  7. Chronic kidney disease.
  8. Road injuries.
  9. Lower respiratory infection.
  10. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).
  11. Diarrheal disease.
  12. Lung cancer.
  13. Asthma.
  14. Breast Cancer.
  15. Congenital defect.
  16. Hypertensive heart disease.
  17. Maternal disorder.
  18. Liver cancer.
  19. Alzheimer’s disease.
  20. HIV/AIDS.

Picture1Data-data di atas penulis peroleh dari Buku Analisis Beban Penyakit Nasional dan Sub Nasional Indonesia 2017 yang di-sharing-kan oleh dr. Siswanto, MHP, DTM, Kepala Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan (klik Duo Alumni Airlangga di Timur Jawa Dwipa). Sebelumnya, pada tanggal 18 Juli 2018, Tim Peneliti telah mendiskusikan hasil sementara penelitian ini dengan jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. Bertindak sebagai koordinator penelitian ini di Provinsi Papua Barat adalah Welly Wamaer, SKM dan sebagai anggota Herman Lawalata, Amd. Penelitian ini dilaksanakan bekerja sama dengan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), University of Washington, Seattle.

BOD adalah suatu upaya sistematis dan ilmiah untuk menyusun data yang komparatif tentang besaran kehilangan kesehatan yang disebabkan oleh semua penyakit utama, cedera dan faktor risiko berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin dan geografi dalam kurun waktu tertentu. BOD perlu diukur untuk mengidentifikasi biaya, waktu dan tenaga yang hilang akibat kejadian yang berhubungan dengan kesehatan. Dengan demikian, dapat ditentukan pola beban penyakit. BOD menghitung angka kematian, insidens, prevalens, Years of Life Lost (YLL), Years Lived with Disability (YLDs) dan Disability Adjusted Life Years (DALYs).

Dari Buku Analisis Beban Penyakit Nasional dan Sub Nasional Indonesia 2017 tersebut dapat diketahui pula tentang lima faktor risiko terbesar menurut penyebab kematian di Papua Barat adalah (1) high fasting plasma glucose, (2) high systolic blood pressure, (3) dietary risks, (4) high body-mass index, dan (5) tobacco. Hal ini semakin menguatkan fakta telah terjadinya transisi epidemiologi di Papua Barat, di mana Penyakit Tidak Menular (PTM) telah mendominasi (66,3%) jenis penyakit pada tahun 2017, dibandingkan tahun 1990 yang hanya 35,48%. Sementara, Penyakit Menular, maternal, neonatal dan gizi, yang pada tahun 1990 mendominasi dengan 56,71%, pada tahun 2017 tinggal 25,81%.

Selama ini, perencanaan dibuat sama dan generik seluruh provinsi sama, padahal setiap provinsi memiliki masalah prioritasnya masing-masing. Dengan telah tersedianya data-data BOD di Indonesia, termasuk di Papua Barat, diharapkan kebijakan kesehatan dan perencanaan program kesehatan bisa lebih evidence based. Kanker memang bukan penyebab kematian tertinggi di Indonesia dan di Papua Barat pada tahun 2017. Saat ini, kanker paru berada di urutan ke-12, kanker payudara di urutan ke-14 dan kanker hati di urutan 18 penyebab kematian tertinggi di Papua Barat. Namun, bukan tidak mungkin sepuluh tahun mendatang ketiga jenis kanker itu dan kanker lainnya akan berada di urutan-urutan yang terdiri atas satu digit. Apa yang harus kita lakukan?

-DoVic 030619-

Catatan:

Bila pembaca menginginkan softcopy Buku Analisis Beban Penyakit tersebut, dapat menghubungi penulis dengan menyebutkan nama dan instansi serta mengirimkannya ke nomor WhatsApp penulis 082245952772.

Iklan

12 respons untuk ‘Waspadailah Penyakit-Penyakit Maut Ini!

Add yours

  1. Mungkin untuk bahasa asingnya bisa diberikan arti atau bahasa indonesia nya agar yang membacanya lebih cepat dimengerti dan dipahami terkhusus untuk orang awam jika membacanya. Trimakasih sebelumnya.

    Suka

    1. Bagus sekali sarannya. Jika Hastrilia ingin mengetahui lebih jauh tentang penyakit-penyakit tersebut, bisa mencari informasinya lebih mendalam di internet dari sumber yang terpercaya. Data-data dalam tulisan tersebut saya kutip dari Buku Analisis Beban Penyakit Nasional dan Sub Nasional Indonesia 2017. Terima kasih.

      Suka

  2. Dari data yang terdapat dalam artikel Penulis, kita dapat menyimpulkan bahwa penyebab kematian terbesar di Papua Barat adalah penyakit tidak menular. Kanker pada saat ini bukan merupakan penyebab tertinggi kematian di Papua Barat, tetapi alangkah baiknya kita sebagai praktisi kesehatan di Papua barat lebih meningkatkan kewaspadaan dan pengetahuan tentang cancer. Selain itu juga kita dapat melakukan upaya preventif kepada masyarakat dengan deteksi dini, pilihan gaya hidup sehat, dan pengobatan terhadap penyakit cancer. Terima kasih.

    Suka

  3. Fameylian Indah A.S, A.Md.Gz
    Nutrisionis

    Artikel ini merupakan artikel yang bagus untuk menambah pengetahuan kita tentang kesehatan. Berdasarkan informasi yang terkandung dalam artikel ini, kita dapat mengetahui bahwa Penyakit Tidak Menular (PTM) di Papua Barat semakin mendominasi, sedangkan penyakit keganasan seperti kanker meskipun belum mencapai persentase yang tinggi, namun tetap menjadi hal yg perlu diwaspadai. Dengan demikian, diperlukan upaya untuk mencegah dan/atau menekan prevalensi kejadian penyakit ini, misalnya dengan mengadakan penyuluhan, pembinaan kelompok dan kampung, peningkatan Germas Hidup Sehat, pengobatan bagi yang sudah terkena, serta peningkatan kerjasama antar petugas pelayanan kesehatan dengan masyarakat. Terimakasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: