Katakan ‘No’ Pada Stigma

Menyusul tulisannya terdahulu (klik Jaga Jiwa Tetap Sehat Di Tengah Pandemi Covid-19!), Rinjani membuat tulisan berikut ini. Tulisan yang admin yakin dibuat penulis karena kegelisahannya melihat situasi terkait pandemi Covid-19 di Manokwari dan beberapa daerah lainnya di Papua Barat. Mari bersama kita tolak stigma di tengah masyarakat.

-DoVic 200520-

 

Semua terjadi tidak secara kebetulan di dunia ini, terjadinya pandemi Covid-19 pun pasti memiliki tujuan dan hikmah. Saya yakin tidak ada orang yang menginginkan sakit, semua terjadi atas seijin Tuhan. Apalagi jika harus diisolasi di Rumah Sakit atau tempat isolasi tertentu (selain rumah pribadi) sampai beberapa hari, minggu bahkan bulan, tidak jarang semakin menambah kekuatiran, kecemasan, ketakutan, stress atau memiliki permasalahan psikologis pada pasien Covid-19. Pada saat isolasi, bagi pasien yang positif Covid-19 dilakukan pemulihan kesehatan, fisik dan psikis, yang dilakukan sesuai standar pelayanan kesehatan dari pemerintah. Tujuannya, agar bisa segera berkumpul kembali dengan keluarga. Namun, setelah melalui proses itu sebagian pasien Covid-19 yang sudah dinyatakan negatif dan diperbolehkan pulang ke lingkungannya masih menghadapi stigma sosial dan perilaku diskriminatif terhadap individu yang dianggap telah melakukan kontak dengan virus corona. Salah satunya adalah pasien Covid-19 yang berasal dari Manokwari. Hal itu tidak menyurutkan Tim Kesehatan Jiwa Fasilitas Karantina Penyakit Infeksi Emerging (PIE) Provinsi Papua Barat untuk mengedukasi masyarakat tentang virus corona agar tidak terjadi stigma sosial dan perilaku diskriminatif.


images - 2020-05-19T211723.391Cara mengatasi stigma sosial tersebut, salah satunya dengan memberi dukungan sosial. Dukungan sosial bisa berupa informasi dari orang yang dicintai atau memiliki arti penting bagi individu yang sedang mengalami masalah atau sakit. Siapa saja yang dapat memberikan dukungan sosial? Bisa orang tua, pasangan, saudara, teman atau sahabat dan masyarakat. Manfaat dari dukungan sosial tersebut dapat membantu pelepasan hormon oksitosin yang dapat menurunkan stress, menurunkan kecemasan, sehingga pasien yang sudah negatif dapat merasa nyaman tinggal di lingkungannya kembali tanpa harus menerima stigma sosial atau perilaku diskriminatif di lingkungan tempat tinggalnya.


Selain pada pasien, pemberian dukungan dan apresiasi juga dilakukan kepada tenaga kesehatan Fasilitas Karantina PIE Provinsi Papua Barat. Ini semua bukan tentang seberapa banyak, namun ini tentang seberapa tulus ia berikan tenaga dan waktu untuk kesembuhan pasien dari Covid-19. Mari bersama saling mendukung untuk melewati tantangan ini. Tetap positif, tetap sehat, tetap bahagia. Saling membantu dan saling mendukung untuk tetap sehat. #salamsehatjiwa

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: