WFH = Work From Ho(me/spital)

images - 2020-05-24T065845.537Sudah lumrah, ketika berlangsung pandemi Covid-19 seperti saat ini, para Aparat Sipil Negara (ASN) diminta bekerja dari rumah. Istilah kerennya WFH, Work From Home. Namun, tidak semua ASN bisa menjalankan kebijakan itu sepenuhnya, yaitu utamanya ASN yang bekerja di sektor kesehatan. Justru, ketika ASN lain menikmati Work From Home, mereka harus bekerja on location bahkan melebihi jam kerja reguler. Mereka adalah para ASN yang bekerja di Dinas Kesehatan, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Pos Persalinan Desa, Rumah Sakit, Klinik, Kantor Kesehatan Pelabuhan dan lainnya. Walaupun, pola pemberian layanan kesehatan bisa diberikan secara online, misalnya konsultasi kesehatan (klik IBI Manokwari Lawan Covid-19), namun ada layanan kesehatan tertentu yang mengharuskan tenaga kesehatan bertatap muka langsung dengan klien. Bagi para tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit, istilah WFH bisa diartikan dengan Work From Hospital.

Tak terkecuali, penulis pun harus menjalankan Work From Hospital, meskipun penulis adalah ASN administrator pada Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. Penulis diberi tugas oleh atasan penulis untuk memfungsikan gedung-gedung RSUD Provinsi Papua Barat sebagai Fasilitas Karantina Penyakit Infeksi Emerging (PIE) Provinsi Papua Barat (klik Mengenal Fasilitas Karantina Penyakit Infeksi Emerging Provinsi Papua Barat, RSUD Provinsi Papua Barat: “Demi Covid-19, Kami Hadir Sebelum Waktunya!”). Penulis bersama beberapa rekan administrator dan pengawas pada Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat merintis upaya untuk mewujudkan hal tersebut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Syukurnya, berkat kerja keras dan kerja sama tim dan dukungan atasan, Fasilitas Karantina PIE Provinsi Papua Barat mulai memberikan hasil dan menunjukkan eksistensinya (klik “Hore!! Tubuh Kami Telah Terbebas Dari Corona Virus”). Penulis selaku Ketua Pelaksana Harian menyadari bahwa dalam usia yang baru seumur jagung, masih banyak subsistem yang belum berjalan optimal dan terintegrasi, walaupun secara konsep telah dibuat seideal mungkin. Jajaran pengelola Fasilitas Karantina menjalankan supervisi dan monitoring secara berkala dan kontinyu. Penulis berpikir apakah dengan cara supervisi dan monitoring yang konvensional dipandang cukup untuk melakukan percepatan peningkatan kualitas layanan Fasilitas Karantina?

Ide itu muncul tiba-tiba, ketika penulis karena kelelahan mengelola Fasilitas Karantina, dianjurkan oleh dr. Lussy, Sp.S untuk opname di Rumah Sakit. Setelah disepakati, akhirnya penulis dirawat dengan menggunakan salah satu fasilitas kamar kelas dua di gedung Instalasi Rawat Inap Bedah di Fasilitas Karantina. Mempercayakan penanganan kesehatan diri sendiri di fasilitas pelayanan kesehatan yang sistem dan prasarana pendukungnya belum sepenuhnya siap, bukannya tidak penulis pertimbangkan, karena menyangkut kesehatan dan nyawa penulis. Namun, keputusan telah diambil dan penulis menjalani perawatan selama empat hari dari tanggal 16-20 Mei 2020. Ide apa yang dimaksud tadi? Penulis akan memanfaatkan status sebagai pasien atau klien untuk menjalankan supervisi dan monitoring apakah subsistem yang selama ini dibangun sudah berjalan semestinya. Penulis akan melakukan supervisi dan monitoring dengan angle yang berbeda dari sebelumnya (klik Di Kala Kudapat Menikmati Layanan Paripurna Sebuah RS).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Memang ide ini tidak sempurna. Penulis tidak bisa menyembunyikan identitas penulis, sehingga supervisi dan monitoring terselubung ini menjadi kurang objektif. Terlepas dari kekurangan ini, penulis telah mendapat beberapa informasi dan fakta berharga yang menunjukkan sisi-sisi subsistem mana yang masih lemah dan perlu penguatan. Sebaliknya, penulis juga menjumpai sejumlah realita yang membanggakan yang itu turut mempercepat pemulihan kesehatan penulis. Tidak semua hal bisa penulis ungkap dalam tulisan ini. Beberapa rekan tampaknya menyadari maksud tersembunyi dari penulis, namun tidak menyampaikan secara terang-terangan. Namun, malah dr. Lussy, Sp.S selaku Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) penulis yang menyampaikan kepada tenaga kesehatan yang ikut mendampinginya saat visite hari terakhir, “Cara dr. Victor mantap. Bisa dicontoh itu.”

Ya, ide bagus itu, walaupun tidak original, muncul begitu saja, namun tentu penulis tidak berharap di antara pembaca harus sakit terlebih dahulu. Tetaplah sehat, apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti ini. Tetaplah Work From Home, ikuti anjuran pemerintah. Tetapi bagi yang harus Work From Hospital bekerjalah sungguh-sungguh, seperti kita melakukannya untuk Tuhan.

 

-DoVic 260520-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: