Kami Bertugas Bukan Karena Terpaksa

Siapa mereka? Mereka adalah para tenaga kesehatan muda yang tergabung dalam Papua Barat Sehat (PBS) 2020 (klik PBS 2020 Datang Lebih Awal). Mereka direkrut oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan strategis di tingkat pelayanan kesehatan dasar. Penulis adalah bagian dari tim yang ditugaskan untuk menyeleksi untuk memilih yang terbaik dari ratusan tenaga kesehatan, baik dari dalam maupun dari luar Provinsi Papua Barat (klik Tepat Kelola SDM, Kapal Organisasi Dapat Berlayar). Yang terbaik, bukan saja dari sisi pengetahuan, keterampilan dan kompetensinya, namun juga dari sikap dan motivasi kerja yang mendasarinya. Dengan kerja sama tim seleksi dan metode seleksi yang digunakan, sudah terpilihlah sejumlah tenaga kesehatan PBS yang dibutuhkan. Enam orang di antaranya berhasil penulis wawancarai.

Awalnya mereka ditugaskan untuk memperkuat Puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil di beberapa Kabupaten di Provinsi Papua Barat. Namun, pandemi Covid-19 mengharuskan mereka dialihtugaskan ke Fasilitas Karantina Penyakit Infeksi Emerging (PIE) Provinsi Papua Barat untuk menangani pasien terduga atau terkonfirmasi Covid-19 (klik Mengenal Fasilitas Karantina Penyakit Infeksi Emerging Provinsi Papua Barat).

(dari kiri atas putar searah jarum jam) : Adeputra Ardiansyah, S.Kep,Ns; Nurlawati, SKM; Hastrilia Buntang, S.Farm, Apt.; dr. Christine N. Loupatty; Joni Kambu, Amd.Kep. dan dr. Theofilio Leunufna.

“Awalnya, hanya karena saya adalah tenaga kontrak Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat yang diperintahkan untuk ikut serta dalam penanganan pandemi ini. Mau tidak mau saya harus menuruti panggilan tugas. Namun, pada hari pertama saya memasuki Fasilitas Karantina untuk mengikuti pelatihan, di situ hati kecil saya tersentuh dengan sikap semua orang yang telah lebih dahulu menangani pasien Covid-19 di Fasilitas Karantina ini. Mendengar cerita mereka yang menyatakan bahwa tanpa Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai mereka menerima pasien pertama di Fasilitas Karantina. Di situ saya mulai menyadari bahwa inilah memang panggilan saya sebagai tenaga kesehatan di manapun saya berada. Kamilah yang akan menjadi garda terdepan untuk menangani masalah kesehatan yang terjadi di negara kita dan ini juga merupakan bentuk kepedulian kami terhadap kemanusiaan,” kata Hastrilia Buntang, S.Farm, Apt., PBS asal Toraja Utara ini.

“Karena pandemi ini adalah masalah besar dan berat serta terjadi secara global, maka saya tergerak saat mengetahui ada panggilan relawan ke Fasilitas Karantina PIE Provinsi Papua Barat. Ini merupakan misi kemanusiaan di mana saya sebagai tenaga kesehatan diberikan kesempatan untuk merawat pasien-pasien Covid-19. Ini merupakan suatu kesempatan yang langka sebagai seorang tenaga kesehatan bisa terlibat langsung dalam masalah global seperti Covid-19 ini. Meskipun pada awalnya, orang tua dan keluarga terdekat saya sempat keberatan, tetapi setelah diberikan pengertian akhirnya mereka setuju. Karena pada dasarnya, saat kita bekerja dengan niat yang baik, Tuhan akan memperhitungkan semuanya itu,” tutur dr. Christine Nathalia Loupatty, PBS asal Kota Sorong.

“Sejak awal kemunculan Covid-19 di Indonesia dan mulai dibukanya relawan Covid-19, saya teringat dengan poin satu janji profesi yang pernah saya ikrarkan yaitu “Saya akan membaktikan hidup saya untuk kepentingan kemanusiaan terutama dalam bidang kesehatan tanpa membeda-bedakan suku, bangsa, agama, jenis kelamin, golongan, aliran politik dan kedudukan sosial”. Hal ini membuat hati saya menggebu-gebu untuk bergabung. Awalnya sempat dilarang oleh orang tua. Bukan mereka tidak mau, tapi karena khawatir anaknya akan terpapar dan meninggal karena Covid-19. Apalagi waktu awal kemunculan Covid-19 di Indonesia, media menyiarkan banyak tenaga kesehatan yang meninggal dunia, gugur dalam menghadapi Covid-19. Saya sempat dihubungi via telepon untuk mengundurkan diri dan balik ke Fakfak, tetapi saya berusaha meyakinkan mereka bahwa ini adalah panggilan profesi. “Hidup dan mati adalah takdir Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang bisa lari dari kematian. Mamak dan bapak tidak usah khawatir, cukup berdoa saja supaya saya sehat dan tidak terpapar.” Itu kalimat yang saya utarakan di telepon. Bahkan sampai sekarang pun masih selalu di ingatkan untuk tetap berhati-hati dalam menjalankan tugas terutama saat melepas APD, karena banyak tenaga kesehatan yang terpapar saat melepas APD,” kisah Adeputra Ardiansyah, S.Kep.Ns., PBS asal Fakfak.

Fasilitas Karantina PIE Provinsi Papua Barat mulai difungsikan dengan jumlah tenaga kesehatan fungsional yang sangat terbatas (klik RSUD Provinsi Papua Barat: “Demi Covid-19, Kami Hadir Sebelum Waktunya!”). Itulah yang mendorong Nurlawati, SKM, PBS asal Bau-Bau, Sulawesi Tenggara ini bergabung, “Karena mengingat jumlah tenaga kesehatan di Fasilitas Karantina PIE Provinsi Papua Barat masih kurang dan sangat dibutuhkan, maka dari itu saya terdorong bergabung untuk bekerja sama di Fasilitas Karantina.”

Bertugas di Fasilitas Karantina PIE Provinsi Papua Barat yang menangani pasien Covid-19 bukan tanpa risiko. Terkait hal ini, apa pendapat Joni Kambu, Amd.Kep, PBS asal Maybrat? Joni menyatakan, “Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai tenaga kesehatan. Apapun risikonya, tetap kita hadapi dengan senang hati.”

“Saya percaya bahwa di manapun kami ditempatkan, baik di fasilitas layanan kesehatan dasar lanjutan, rasa tanggung jawab itu tetap sama dan tak pernah berkurang sedikitpun. Bertugas selama kurang lebih dua bulan di Puskesmas daerah pedalaman memiliki tantangan tersendiri dan kami merasa cukup nyaman di sana walaupun dengan segala keterbatasan yang ada. Namun, melihat kondisi tenaga kesehatan yang terbatas di daerah Papua Barat, saya sendiri merasa terpanggil untuk mengambil bagian dan terlibat secara langsung dalam pelayanan terhadap pasien-pasien Covid-19 selama masa pandemi ini. Banyak juga yang takut dan khawatir saat akan bertugas langsung menghadapi pasien-pasien positif. Tapi tidak sedikit juga yang bersemangat. Kami masih muda, energik dan kami yakin dapat menularkan semangat yang sama kepada pasien untuk cepat sembuh maupun sesama tenaga kesehatan atau tenaga non kesehatan yang bertugas di Fasilitas Karantina. Kita masih belum tahu kapan pandemi ini akan berakhir, tapi yang pasti bahwa kita semua akan tetap bertahan dengan semangat yang tak pernah padam,” ungkap dr. Theofilio Leunufna, PBS asal Ambon, Maluku ini.

-DoVic 150720-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: