Kolaborasi Interprofesi: Ikut Sembuhkan Pasien Covid-19

Siapa di antara pembaca blog yang dapat menyebut nama-nama mereka yang ada dalam foto yang menyertai tulisan ini? Saya yakin tidak ada satupun. Mereka semua berpakaian hazmat, jadi sulit untuk dikenali. Hal ini sudah pernah kita bahas dalam tulisan sebelumnya (klik Orang-Orang Di Balik Hazmat Suit, Andaikata Jenazah Covid-19 Dapat Mengungkapkan Perasaannya). Tapi, kalau saya tanyakan apa profesi kesehatan mereka? Apakah mereka semua dokter? Apakah ada yang bisa menjawabnya? Sulit juga memastikannya.

Yang jelas tidak hanya profesi dokter yang terlibat dalam penanganan pasien terduga atau terkonfirmasi Covid-19. Banyak profesi kesehatan dan non kesehatan. Keberhasilan pengelolaan suatu sarana fasilitas kesehatan atau kesembuhan dari pasien-pasien yang dirawat (klik “Hore!! Tubuh Kami Telah Terbebas Dari Corona Virus”) memerlukan kontribusi berbagai jenis profesi yang harus saling berkolaborasi erat dan harmonis. Tidak ada jenis profesi kesehatan tertentu yang lebih superior daripada jenis profesi kesehatan lainnya. Semuanya setara kedudukannya dalam tujuannya untuk menyembuhkan pasien sesuai kompetensinya masing-masing. Hanya di dalam team work yang multidisiplin tersebut, profesi dokter disepakati menjadi team leader-nya. Sejumlah tenaga kesehatan yang sudah muncul dalam tulisan sebelumnya (klik Kami Bertugas Bukan Karena Terpaksa), berbagi pendapat sebagai berikut:

“Setiap kita yang bekerja di Fasilitas Karantina Penyakit Infeksi Emerging (PIE) Provinsi Papua Barat berasal dari profesi yang berbeda-beda. Semuanya mempunyai peranan yang sangat vital, mulai dari cleaning service, satpam sampai kepada pengambil kebijakan di level manajemen. Contoh yang sangat sederhana yaitu saat kita menangani seorang pasien yang diisolasi, saya sebagai dokter tentunya membutuhkan perawat atau bidan untuk mendampingi saya saat visite pasien. Mereka bisa membantu dalam melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pasien. Selain itu, ada rekan-rekan ahli teknologi laboratorium medis (ATLM) yang siap untuk melakukan tugas pengambilan swab dan darah untuk pemeriksaan penunjang. Kemudian, ada tim dari bagian kejiwaan yang bertugas untuk melakukan konseling terhadap pasien yang tentu saja sangat tertekan psikisnya. Lalu, ada tim kesehatan komunitas yang bertugas untuk kegiatan kesehatan jasmani dan olah raga. Tentunya banyak sekali rekan-rekan lain yang bertugas di belakang layar, yang bekerja tanpa kenal lelah dan melayani dengan sepenuh hati,” kata dr. Theofilio Leunufna, PBS yang ditugaskan awal di Puskesmas Yembekiri, Kabupaten Teluk Wondama.

Senada dengan dr. Theo, dr. Christine Nathalia Loupatty, PBS dengan penugasan awal di Puskesmas Yenanas, Kabupaten Raja Ampat berpendapat, “Kolaborasi interprofesi sangat penting. Dan itu merupakan kunci dari keberhasilan penanganan Covid-19. Salah satu contohnya yaitu, saat seorang dokter melakukan pengambilan sampel swab, dokter tersebut kemudian akan membutuhkan tenaga ATLM untuk memeriksa sampel tersebut. Saat hasilnya sudah ada dan jika positif, maka tenaga surveilans diperlukan untuk men-tracing pasien yang sudah terkonfirmasi positif tersebut, agar penyebaran Covid-19 bisa segera ditangani. Demikian juga, dengan profesi tenaga kesehatan lainnya, yang juga memegang peranan penting di setiap porsi kerja masing-masing dalam penanganan kasus Covid-19 ini.”

Sementara itu, Hastrilia Buntang, S.Farm, Apt. memberikan contoh dari sudut pandang berbeda. PBS dengan penugasan awal di Puskesmas Sabubar, Kabupaten Teluk Wondama ini mencontohkan, “Pada saat dokter meresepkan obat kepada pasien, dokter akan bertanya terlebih dahulu ke apoteker tentang ketersediaan obat yang ada di apotek. Dan karena di Fasilitas Karantina PIE Provinsi Papua Barat, apoteker tidak bisa memberikan pemberian informasi obat (PIO) secara langsung kepada pasien, maka apoteker memberikan informasi penting tersebut kepada dokter atau perawat untuk menyampaikan hal-hal tertentu kepada pasien mengenai obat yang pasien konsumsi pada saat dokter melakukan visite pasien ataupun melalui alat komunikasi.”

“Kolaborasi interprofesi sangat perlu. Ibarat panca indera pada tubuh manusia yang apabila kehilangan satu panca indera, maka akan cacat. Semua profesi saling berkaitan dan tidak dapat berdiri sendiri. Contohnya ketika ada pasien, perawat akan mengkaji. Hasil pengkajian diserahkan kepada dokter untuk menganamnesa dan menentukan diagnosa medis. Dalam memperkuat diagnosa diperlukan pemeriksaan penunjang yang dilaksanakan oleh ATLM dan/atau radiografer. Selanjutnya, ketika dalam penatalaksanaan terapi, maka apoteker dan ahli fisioterapi yang mengambil bagian. Tak lupa pula peran nutisionis dalam pengaturan diet makanan pasien,” kata Adeputra Ardiansyah, S.Kep.,Ns., PBS yang mendapat penugasan awal di Puskesmas Tahota, Kabupaten Manokwari Selatan.

Sementara itu, Nurlawati, SKM memberikan rincian contoh peran sanitarian dalam kolaborasi interprofesi tersebut. “Kami melakukan desinfeksi area zona merah, kuning dan hijau. Kami juga melakukan dekontaminasi dan mensterilkan Alat Pelindung Diri (APD). Kami mengelola limbah infeksius dan non infeksius. Limbah infeksius padat dan tajam, kami bakar dengan insenerator. Linen kotor dan/atau infeksius juga kami kelola,” lanjut Nurlawati, PBS dengan penugasan awal di Puskesmas Catubouw, Kabupaten Pegunungan Arfak.

Joni Kambu, Amd.,Kep., PBS yang awalnya ditugaskan di Puskesmas Amberbaken, Kabupaten Tambrauw menyimpulkan, “Intinya kolaborasi interprofesi sangat penting untuk meningkatkan kualitas perawatan dan keselamatan pasien Covid-19.”

-DoVic 170720-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: